User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Seri Informasi Aceh XXXXl Nomor 2, 2018.

Ketika tahun 1595, Kompeni Hindia Timur berkenalan dengan raja dagang Aceh ('ala ad-din Riayat Syah). Kekayaan Aceh tampaknya sangat menonjol. Tahun 1639, Crook, Komisaris Kompeni di Aceh menerangkan bahwa ia terpesona melihat kehebatan istana Sultan. Nilai singgasana Sultan ditaksik kira-kira seberat 40 bhara mas murni.

Kekayaan itu bersumber terutama sekali dari hasil tanaman lada yang dimonopoli oleh Sultan dan merupakan alat tukar terpenting untuk memperoleh mata barang perdagangan beharga lainnya.

Inilah yang menyebabkan Aceh menjadi posisi yang strategis, Berkat ramainya perdagangan terutama lada membawa kemakmuran bagi rakyat, sehingga menimbulkan keinginan pada bangsa lain untuk melakukan petualangan.

Sinkat cerita, Kejayaan ini pun berangsur-angsur mundur akibat para Ulee balang yang memperebut kekuasaan. Hingga tiba pecahnya perang dengan Belanda tahun 1873.

Setelah peperangan Belanda di Aceh berakhir. Masa depan baru terbuka bagi bangsa Aceh yang rajin itu untuk memulai kembali sektor pertanian. Aboe Bakar sangat meyakini bahwa sektor pertanian memainkan peranan yang sangat penting dalam meningkatkan penghasilan dan kekayaan masyarakat Aceh di masa lalu, sehingga ia mengumpulkan banyak literatur-literatur untuk mempertajam seri ini.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Seri Informasi Aceh XXXXl Nomor 1, 2018.

A.J Vleer berpendapat bahwa Tuha peuet memiliki kedudukan yang tinggi dalam susunan pemerintahan negeri di Aceh.

Tuha peuet merupakan sebuah lembaga yang mengambil tanggung jawab tugas-tugas pemerintahan umum sebagai sebuah dewan yang mendampingi seorang uleebalang dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari.

Martabat tuha peuet adalah turun-temurun, upah jerih payahnya dalam bentuk bantuan atau tunjangan yang dibebankan kepada keuangan kerajaan atau kenegerian. Mereka memperoleh kekuasaan memerintah secara langsung ddan oleh karena penghasilan-penghasilan mereka seluruhnya berasal dari daerah-daerah yang mereka perintah.

Seri ini membahas peran dan fungsi tuha peuet serta perubahan-perubahan fungsi yang terjadi didalam nya.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Seri Informasi Aceh XXXX Nomor 5, 2017.

R.A. Kern salah seorang penasihat Urusan-ursan Kebumiputeraan dalam pemerintah kolonial Belanda melakukan penyelidikan terhadap Pembunuhan Aceh.

Tahun 1910 adalah sebuah titik balik bagi Pemerintah Belanda di daerah Aceh, Jika sebelumnya dimana perlawanan secara besar-besar dan terorganisir terjadi, tahun tesebut semuanya telah dipatahkan. Tinggallah kini mereka yang sukar untuk di damaikan, mereka menyingkir ke pedalaman dan hutan-hutan. Patroli-patroli Belanda mencari mereka ke mana-mana dan satu-persatu mereka disergap, ditangkap atau dibunuh.

Terlepas dari semuanya ternyata masih terjadi pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang Eropah dalam wilayah-wilayah yang tenteram dan penduduknya ramai yang dilakukan oleh meraka yang tidak berterus terang menyatakan diri sebagai musuh pemerintah Belanda.

Kejadian-kejadian yang telah didaftarkan sejak tahun 1910 berjumlah tidak kurang dari 99 orang menjadi korban yang dikenal dengan "Pembunuhan Aceh"

Seri ini menguak fakta-fakta mengenai motif Pembunuhan Aceh, Penyeledikan yang dilakukan R.A Kern ini membuka banyak tabir masa lalu, sehingga seri ini sangat cocok masuk dalam daftar favorit anda.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Seri Informasi Aceh XXXX Nomor 3, 2017.

C. Nieuwenuis adalah seorang juru potret Belanda yang merupakan saksi hidup peristiwa agresei Belanda ke wilayah Samalanga dan sekitarnya tahun 1901. Ia mengakui laporan ini ditulis apa adanya tanpa bumbu apapun.

Laporan ini menyatakan bahwa Pihak Belanda sudah tiga kali berusaha dengan segala susah payah merebut kubu pertahanan Batee Iliek hanya untuk memperluaskan kekuasaannya di seluruh daerah Aceh setelah mereka berhasil merebut Dalam.

Tanggal 10 September empat buah kapal perang yang berlabuh di perairan Meureudu menggempur kota itu ditambah dengan penyerbuan pasukan -pasukan di tepi barat Kuala Ulim memaksa Raja Samalanga Teuku Chik Muda (Teuku Chik Bugeh) untuk berdamai dengan Belanda.

Banyak fakta-fakta yang terkuak dari seri ini, contohnya saja sikap-sikap patriot orang-orang Aceh yang gagah berani yang meledakkan  tong mesiu seorang diri.

Seri ini benar-benar menguak banyak sejarah, sangat cocok untuk masuk daftar favorit anda

Page 1 of 2

Deskripsi Singkat Lembaga

Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh disingkat PDIA adalah badan yang bersifat mandiri, sebagai salah satu perwujudan kerja sama antara Pemerintah Aceh dan Universitas Syiah Kuala.

Lembaga ini mendapatkan Bimbingan Administratif dari Pemerintah Aceh dan Bimbingan Teknis Ilmiah dari Universitas Syiah Kuala. 

Apresiasi kerja kami

Berita Terkini

PDIA KAMPANYE LITERASI SEJARAH ACEH DI LHOKSEUMAWE

PDIA KAMPANYE LITERASI SE...

Pada akhir Oktober 2018. Pusat Dokumentasi dan In...

PDIA Gelar Pameran Aceh History Expo PKA Ke-7

PDIA Gelar Pameran Aceh H...

Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) dijadw...

Pameran Foto Kilas Balik 145 Tahun Maklumat Perang Kolonial Belanda Di Aceh

Pameran Foto Kilas Balik...

Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) Kembal...

Pameran Potret Pendidikan Di Aceh dari Masa ke Masa

Pameran Potret Pendidikan...

Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) kembal...

Image Gallery