• +62 813 6065 3135
  • Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

SejarahGagasanPendirianLembagaPusat Dokumentasi dan Informasi Aceh

Gagasan pendirian Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) untuk pertama kali dicetus dalam seminar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II yang dilangsungkan sejak tanggal 20 Agustus sampai dengan 2 September tahun 1972, di Banda Aceh. Ide ini bermula atas usulan Drs. Teuku Ibrahim Alfian M.A. (red: Prof. Dr. Ibrahim Alfian M.A; SK Profesor sesuai SK Presiden RI No 12/K pada 1 April 1984) dosen Fakulatas Sastra dan Kebudayaan Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta yang saat itu menjadi pembicara pada seminar acara tersebut. Dalam pandangannya, Aceh membutuhkan sebuah pusat studi yang menghimpun seluruh informasi mengenai Aceh sehingga keberadaan Aceh tidak hanya sebatas identitas teritori ataupun suku bangsa, tapi juga mampu menjadi bagian dari kajian pengetahuan yang disebut "Aceh Studies".

Usulan akan pentingnya keberadaan pusat studi mengenai Aceh ini juga muncul dari seorang pemakalah lain di forum PKA II tersebut, yaitu Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh. Beliau mengusulkan agar di Banda Aceh dibangun sebuah "Institute of Aceh Studies" sejenis "Atjeh Instituut" yang didirikan pada masa pendudukan Belanda di Aceh, tepatnya 1 Agustus 1914 di Amsterdam, yang anggaran dasarnya ditetapkan dalam Koninklijk Besluit No. 61, tanggal 31 Juli 1914, dengan tujuan mengumpulkan bahan-bahan mengenai daerah dan rakyat Aceh. Ketua pertama Atjeh Instituut adalah Prof. Dr. C. Snouck Hugronje dengan J. Kreemer sebagai sekretaris. Lembaga inilah yang telah menerbitkan buku krangan-karangan , dan penerbitan lainnya tentang Aceh, antara lain: Atjeh (2 jilid) 1922/1923, Atjehschhandwoordenboek, DeRijkdom Van Atjeh, dan sebagainya

Gagasan tersebut baru terwujud pada 21 Januari 1974 dengan didirikannya Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (PLPIS)  pertama Indonesia di Darussalam, Banda Aceh (red:1990 sd sekarang Pusat Latihan Ilmu Sosial Budaya Universitas Syiah Kuala) dengan Dr. Alfian yang menjabat direktur saat itu. Pada tahun yang sama lahir pula sebuah proyek yang dinamakan  KA 013 dalam rangka Kultureel Akkoord (kerja sama kebudayaan) Belanda-Indonesia yang turut membentu menyediakan buku-buku sebagai persiapan berdirinya PDIA. Drs. F.G.P Jaquet, Kepala Kearsipan pada Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Leiden telah memberikan bantuan yang sangat beharga dalam hal menyeleksi bahan-bahan informasi yang berkaitan dengan Aceh di Negeri Belanda dan sekaligus mengupayakan pengirmian ke Banda Aceh.

Dalam rangka persiapan kelahiran PDIA dan berkat kebijakan pemerintah Daerah Istimewa Aceh, sebuah bangunan yang pada masa pemerintah Belanda sebagai tempat kediaman Asistent Resident Terbeschikking, dan pada masa pemerintahan Republik Indonesia diihuni oleh pejabat Resident Atjeh, dijadikan bakal gedung PDIA. Pada tanggal 2 September 1974 dalam rangka memperingati ulang tahun ke-13 Universitas Syiah Kuala, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, A. Muzakir Walad, menyerahkan tanah dan gedung tersebut kepada Universitas Syiah Kuala dengan disaksikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Syarif Thayeb, dan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Brigadir Jenderal A. Rivai Harahap.

Selama dua tahun, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyediakan dana untuk pemugaran gedung dan penambahan beberapa bangunan baru. Pemerintah Daerah, selain menyerahkan gedung dan tanah juga telah membantu sejumlah biaya selama dua tahun utnuk pengadaan alat-alat perlengkapan dan sebagainya.

Pada tanggal 26 Maret 1977, tepat 104 tahun Proclamatie (pernyataan) perang Kerajaan Belanda kepada Kerajaan Aceh, diresmikanlah pendirian Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Peresmian ini dihadiri oleh:

  1. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Syarif Thayeb,
  2. Drs. Teuku Ibrahim Alfian, M.A (Direktur PDIA ke-1)
  3. Abdullah Muzakir Walad (Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh 1968-1978)
  4. Dr. Syamsuddin Mahmud (Pembantu Rektor I Universitas Syiah Kuala 1975-1977)
  5. Prof. Abdul Majid Ibrahim
  6. M. Hasan Basri, S.H.
  7. para pejabat setempat,
  8. dan tamu-tamu khusus Pemerintah Daerah Isimewa Aceh  dari negeri Belanda, yaitu
    • Prof. Andries "Hans" Teeuw (Aka A. Teeuw), Ketua Proyek Kerjasama Belanda-Indonesia beserta istri,
    • Dr. Arie Johannes Piekaar (Aka A.J. Piekaar), mantan sekretaris Keresidenan Aceh 1939-1942 (red: Pensiun pegawai tinggi Kementerian Pendidikan Belanda 1953-1975) beserta istri
    • Mr. A Vleer, mantan Adspirant Controleur di Lhoksukon 1932-1934 (red: Pensiunan Walikota Enshede Belanda) beserta istri.
PDIA diresmikan pemakaiannya untuk umum pada tanggal 3 September 1978 dalam rangka memperingati hari jadi ke-17 Universitas Syiah Kuala. PDIA semula bernama Pusat Dokumentasi Aceh, tetapi kemudian diubah menjadi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Dalam statua pendirian disebutakan bahwa lembaga ini merupakan lembaga otonom sebagai salah satu perwujudan kerjasama antara Pemerintah Daerah Istimewa Aceh dengan Universitas Syiah Kuala.

our PHOTO can tell the whole STORY

"Dokumentasi selalu lebih baik dari pada argumentasi."
Heinz Sielmann

 

  • Item 7
  • Vertical Image 1
  • Item 4
  • Item 5
  • Vertical Image 2
  • Item 6
  • Item 11
  • Item1
  • Item 8
  • Item 9 (a)
  • Vertical Image 3
  • Item 16
  • Item 10 (a)
  • Vertical Image 5
  • Item 15
  • Item 6 (a)
  • Buku langka yang dimiliki Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
  • Item 13 (a)
  • Item 12 (a)
Breaking News
© 1977 - 2020 Pusat Dokumentasi & Informasi Aceh
Available Language