Bayan Tajalli

Bayan TajalliDr. Petrus Voorhoeve

Cover Seri Informasi Aceh XXXXIII Nomor 1, 2020 "Bayan Tajalli" yang diterbitkan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
Cover Seri Informasi Aceh XXXXIII Nomor 1, 2020 "Bayan Tajalli" yang diterbitkan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
Cover Seri Informasi Aceh XXXXIII Nomor 1, 2020 "Bayan Tajalli" yang diterbitkan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
Bahan - Bahan Untuk Mengadakan Penyelidikan Lebih Mendalam Tentang Abdurrauf Singkel
Kemasyurannya Abdurrauf telah menyebabkan sarjana-sarjana bukan islam pun menaruh perhatian terhadapnya. Seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda bernama D.A. Rinkes telah menulis sebuah sastrakanta (tesis) berjudul "Abdoeraoef van Singkel: Bijdrage tot de Kennis van de Mystiek op Sumatra en Java" (= Abdurrauf dari Singkel: Sumbangan untuk Mengetahui Mistik di Sumatera dan Java) untuk memperoleh gelar Doktor Ilmu Bahasa dan Kesusasteraan pada Universitas Kerajaan Belanda di Leiden yang dipertahankannya tanggal 14 Oktober 1909.

Seri Informasi Aceh XXXXIII Nomor 1, 2020.

Tampaknya hal-hal mengenai Abdurrauf yang sudah dikemukakan oleh Dr. Rinkes itu masih belum cukup juga karena 43 tahun kemudian Dr. P. Voorhoeve telah mengangkat kembali issu tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ada hal-hal yang perlu diketahui tentang sarjana besar Islam itu. [Dr. P. Voorhoeve. 2020. ]1

Penyelidikan Rinkes mengenai Abdurrauf itu merupakan bahan pendahuluan yang tidak dapat diabaikan dalam mempelajari karya-karya tokoh tersebut, walaupun belum lagi mencakup seluruhnya. Tujuan utama Rinkes yang sebenarnya adalah hendak menggambarkan arti mistik Syattariah di pulau Jawa serta perkembangannya di sana yang dibawakan oleh Abdurrauf. [Dr. P. Voorhoeve. 2020. ]2

 



Lihat Seri Informasi Aceh lainnya:

Seri Informasi Aceh XXXXl Nomor 2, 2018 Inilah yang menyebabkan Aceh menjadi posisi yang strategis, Berkat ramainya perdagangan terutama lada membawa...
Seri Informasi Aceh XXXXlII Nomor 1, 2020 Kemasyurannya Abdurrauf telah menyebabkan sarjana-sarjana bukan islam pun menaruh perhatian terhadapnya. Seorang pegawai pemerintah...
Seri Informasi Aceh XXXXlII Nomor 2, 2020 Tanggal 28 Agustus 1905 dikeluarkanlah Ketetapan Kepala Persenjataan Infanteri tentang penunjukan penulis sebagai Komandan...

Terdapat beberapa lampiran yang sangat menarik untuk dicermati di dalam Seri Informasi Aceh ini, yaitu:

A. Berbahasa Aceh

  1. Tanbih al masyi al-mansub ila tariq al-Qusyasyi. Lihat indeks karangan Rinkes.

Naskah-naskah:

  • Jakarta KBG 101, berbahasa Arab, halaman 121 – 150 (Cat.v.d. Berg halaman 91. Di Leiden terdapat dalam bentuk mikrofilm Or. A. 13d). Kopinya bertanggal 1186 Hijriah.
  • KBG 655, berbahasa Arab, f. 172r–184v. (Dalam Supplement Catalog van Ronkel nomor 289, tidak dinyatakan judulnya. Di Leiden terdapat dalam bentuk mikrofilm Or. A. 34). Kopinya berasal dari tahun 1158 H dari aslinya yang ditulis pada tahun 1081 H (1670 M). Naskah itu pernah dimiliki oleh ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Qahhar al Jawi, terkenal sebagai pengarang dan penyalin berbagai-bagai naskah dalam perpustakaan Kraton Banten (lihat namanya dalam indeks katalog Friederich-van den Berg). Ia terkenal juga sebagai guru Syattariyah, terbukti dari Cod. Or. 7267 (Suppl. Cat. V. Ronkel no. 324).
  • Terdapat di Leiden, Cod. Or. 7030, halaman 115-153. Kumpulan Snouck Hurgronje. Berasal dari Bojonegoro tahun 1905.
  • Or. 7031 (1), 68 halaman. Kumpulan Snouck Hurgronje. Kopinya dibuat dari naskah yang berasal dari Cirebon tahun 1889.

B. Piagam tentang zikir

Lihat Rinkes halaman 37.

Naskah-naskah:

  • Terdapat di Leiden, Co. Or. 5702 f. 23v-31r. Naskah yang ditulis dengan tangan serupa berasal dari tahun 1111 H. Nama pengarangnya ditulis di sini sebagai berikut: Katabahu al-faqir ilallahi ‘Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Mansuri al-Si’kili (sic!).
  • Or. 7179, 22 halaman. Kumpulan Snouck Hurgronje. Kopinya berasal dari tahun 1889 dari naskah Ceribon. 2a-c. Karya-karya tulisan berbahasa Arab dan Melayu, lihat di bawah ini pada no. 13, 16, dan 17.

 

C. Berbahasa Melayu

  • Mir’at at-tullab fi tashil ma’rifat al-ahkam asy-syar’iya lil-malik al-wahhab. Buku pedoman Fiqh (muamalat), ditulis atas perintah Sultanah Safiyatuddin. Besar kemungkinan sebagai lanjutan as-Sirat al-Mustaqim karangan ar-Raniri, yang hanya mengupas tentang masalah ibadat. Lihat Rinkes halaman 32 dst.

Penerbitan: S. Keyser dalam BKI 2, VII, halaman 211 dst. (kata pengantar). A. Meursinge, 1844 (kutipan).

Naskah-naskah:

  • Jakarta KBG 289, berbahasa Melayu, 109 halaman (Cat. V. Ronkel DLXII). Tidak lengkap.
  • KBG 399, berbahasa Melayu, 196 halaman, (Cat. v. Ronkel DLXIII). Fragmen.
  • KBG 234, berbahasa Arab, 696 halaman, (Cat. v. Ronkes CMXVI). Lengkap.
  • KBG 455, berbahasa Melayu, 3 jilid dalam satu buku (jilid 2 dan 3 bertukar sewaktu dijilid), 814 halaman, ukuran 26 x 18 cm, 23 baris. Lengkap, ditulis indah sekali di Singapura pada tahun 1824 M, akan tetapi telah menjadi kurang indah disebabkan dibuangnya semua catatan-catatan yang berbahasa Arab serta ditambahkan catatan-catatan yang tidak masuk akal pada halaman judul yang menerangkan bahwa naskah itu diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Parsi oleh Syaikh Zakariya (al-Ansari, pengarang kitab Fath al-Wahhab) dan dari bahasa itu diterjemahkan ke bahasa Jawi oleh Syaikh Abdurrauf! Naskah ini dan naskah berikutnya tidak terdapat dalam katalog; satu dan lainnya tentang ini telah dijelaskan kepada saya oleh Dr. R. Roolvink.
  • KBG 581, berbahasa Arab, tidak lengkap, dalam keadaan yang amat rapuh dan mudah hancur jika disentuh.
  • Terdapat di Leiden, Cod. Or. 1633, 727 halaman. (Catalog Juynboll, halaman 265). Berasal dari Gorontalo. Lengkap.
  • Or. 3255, 535 halaman. (Catalog Juynboll halaman 266). Tebalnya lebih kurang 2/3.
  • Or. 5834 (Suppl. Catalog van Ronkel no. 278), menurut Catalog ini 476 halaman. Sebagian dari halaman-halamannya telah terlepas dan belum lagi disusun menurut urutannya. Dibandingkan dengan Mir’at at-Tullab yang lebih lengkap itu, maka naskah ini merupakan naskah as-Sirat al-Mustaqim karangan ar-Raniri yang tidak lengkap lagi yang ditulis oleh tangan serupa. Kolofon Mir’at berbunyi: wakana’l-faragh min taswidihi nahar as-Sabt ats-tsamin min jumad al-akhir bi-zawiyat al-faqir fi nur salawat Allah sanat 1083 min al-hijra an-nabawiya. Dimulai dengan “nahar....” penanggalan itu ditulis di atas kolofon sebelumnya yang telah dihapus. Ini menunjukkan suatu pemalsuan yang dilakukan kemudian. Kemungkinan lain ialah bahwa penyalinnya telah menyalin penanggalan semula tetapi kemudian oleh pemeriksa naskah itu (seperti ternyata dari banyaknya catatan di sampingnya) telah diubah tahunnya (yang lama) dengan tahun selesainya naskah itu diperiksa. Yang disebut terakhir saya anggap lebih besar kemungkinannya. Kata bizawiyat al-faqir, yaitu dalam zawiah atau langgar saya (zawyah dalam bahasa Aceh adalah dayah atau bahasa Jawa: langgar) memberi kesan kepada saya bahwa pemeriksanya adalah pengarangnya juga. Segera setelah kolofon itu terdapat permulaan Bayan al-arkam (lihat di bawah ini pada nomor 8).
  • Or. 5837, 2 jilid, 232 dan 233 halaman. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 279). Bertanggal 1274-1275 H. Lengkap.
  • Or. 7651, 233 halaman. Bertanggal 1105 H, disalin di Betawi dari naskah yang dibawa dari Aceh oleh seorang murid Abdurrauf. Murid itu tadinya berdiam di kampung Pandayung, yang oleh Damste dikenal sebagai Kampung Peunayong, terletak di tepi kanan sungai Aceh, sekarang sebuah kampung di Kutaraja/Banda Aceh).

 

D. Tarjuman al-Mustafid

Terjemahan Quran beserta tafsirnya, (sebagian besar) dikerjakan dari tafsir al-Baidawi. Lihat The Achehnese oleh Snouck Hurgronje, II, halaman 17, catatan 6. Menurut catatan pada penutupnya, seorang muridnya telah turut mengolah terjemahan itu.

penerbitan: Konstantinopel, tahun 1302 H. (2 jilid).

 

Naskah-naskah:

  • Jakarta KBG 291, berbahasa Melayu, 967 halaman, (cat. van Ronkel DXXX). Tidak lengkap.
  • KBG 233, berbahasa Arab, 290 halaman, (Cat. van Ronkel CMXV). Tidak lengkap.
  • KBG 373, berbahasa Melayu, 328 halaman. (Cat. van Ronkel DXXXII). Kendatipun berjudul Tafsir al-Jalalain (lih. Rinkes halaman 31 catatan 2), ia merupakan fragmen dari karya serupa.
  • KBG 290, berbahasa Melayu, 539 halaman (Cat. van Ronkel DXXIX), juga sebagian dari karya serupa.
  • KBG 232, berbahasa Melayu, 321 halaman (Cat. van Ronkel DXXXI), menurut penjelasan Dr. Roolvink juga karya serupa.
  • Terdapat di Leiden, Cod. or. 7596. Dalam bentuk fragmen.

 

  1.  ? Sullam al-mustafidin

Penjelasan dalam bahasa Melayu mengenai Manzuma karangan Ahmad al-Qusyasyi. Dianggap berasal dari Abdurrauf oleh penyalin Cod. Or. 8210; menurut Katalog Paris disebut sebagai karya ‘Abdus-samad al-Palimbani akan tetapi dalam naskah Paris tidak saya jumpai sesuatu yang menunjukkan bahwa karya itu dikarang oleh Abdussamad.

Naskah-naskah:

  • Jakarta KBG 109, berbahasa Melayu, halaman 1-124 (Cat. van Ronkel DCLVIII). Di dalamnya terdapat, menurut keterangan Dr. R. Roolvink, judul Sullam al-Mustafidin (yang tidak disebut oleh van Ronkel), tetapi tidak disebutkan nama pengarangnya. Dalam naskah-naskah yang serupa, berasal dari Aceh, terdapat sebuah karangan tanpa nama pengarangnya (besar kemungkinan saduran dari bagian Sanusiya yang mungkin sekali dari ‘Abdussamad); Zuhrat al-Murid oleh Abdussamad al-Palimbani; dan dua buah karangan ar-Raniri.
  • Terdapat di Leiden Cod. Or. 5741, f. 163v-247r (Suppl. Cat. van Ronkel no. 349).
  • Or 8210, 104 halaman. Disalin oleh Teungku Mohamad Noerdin untuk Snouck Hurgronje.
  • Terdapat di Paris, Melayu-Polinesia 30, 143 halaman, (cat. Cabaton halaman 218).

E. Penjelasan atas Arba’ina Hadisan karangan an-Nawawi

Ditulis atas perintah Sultanah Zakiyatuddin (1678 – 1688). Pada Algemene Secretarie terdapat sejak tahun 1850 sebuah naskah no. 18, diuraikan oleh Van der Tuuk, Cod. Or. 2301, halaman 15-17, akan tetapi telah hilang.

 

F. ?al-Mawa’iz al-Badi’a

Lihat Rinkes halaman 33 dst. Penerbitan: Bulaq tanpa tahun; Mekah tahun 1310 H (cetakan ke 4 atau ke 5); kedua-duanya dalam satu jilid, berjudul: Jam’ Jawami’ al-musannafat.

Naskah-naskah:

  • Jakarta KBG 323, berbahasa Melayu, halaman 5-75 (Cat. van Ronkel DCCXLII).
  • KBG 341, berbahasa Melayu, halaman 1-80 (Cat. van Ronkel DCCXLIII). Tanggal terjemahan: 27 Syawwal 1250 H.
  • Leiden, Cod. Or. 7235, 85 halaman (Suppl. Cat. van Ronkel no. 309). Salinan dari naskah

Ke 32 buah pengajaran pertama itu merupakan hadis qudsi (perkataan Tuhan yang tidak terdapat di dalam Qur’an); no. 33-50 memuat ucapan-ucapan Nabi Muhammad, para ulama, ahli tasauf dan sebagainya. Bagian pertama terdapat juga secara terpisah dalam naskah-naskah yang lain.

  • Jakarta KBG 115, berbahasa Melayu, halaman 11-46 (Cat. van Ronkel DXCVII). Di Leiden terdapat dalam bentuk mikrofilm Or. A 24d.
  • Von de Wall 22, 40 halaman (Cat. van Ronkel DXCVIII).

            Karangan ini diterjemahkan dari bahasa Arab; bandingkan Van Ronkel, Suppl. Cat. Arab. Mss. Bat. no. 130 dan Leiden Cod. Or. 7030, halaman 197-216. Sebuah naskah berbahasa Arab (Berlin, Ahlwardt 3949) dibubuhi tahun 1046 H. (16-37 M) dan berasal dari Turki. Dengan demikian, Abdurrauf paling tinggi telah menterjemahkan bagian pertama dan menambahkan bagian keduanya (jika dipastikan bahwa penanggalan pada naskah B sesuai dengan yang dinyatakan pada salinannya!). akan tetapi sekiranya naskah Gotha 3 (13) yang juga berasal dari Turki, dan, tanpa sesuatu dasar, dianggap karangan al-Ghazzali, merupakan karangan yang sama, maka dalam bahasa Arab pun sudah ada naskah yang lebih panjang lagi. Naskah ini berakhir secara sekonyong-konyong pada pasal 38. Alasan mengapa Snouck Hurgronje menganggap karangan itu karya Abdurrauf disebabkan karena pada penerbitan itu dinyatakan nama Abdurrauf.

 

G. Bayan al-arkan

Sebuah pedoman sederhana mengenai syariah-syariah agama, akan tetapi mengenai sembahyang lebih diperinci.

Naskah-naskah:

  • Amsterdam 674/815, f. 17v-33r. (Cat. van Ronkel dalam Mededeelingen Volkenkunde 7, halaman 149). Di Leiden (Or. A. 25e) dan di Jakarta terdapat dalam bentuk mikrofilm. Pada kolofonnya disebut Sayyidi Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali sebagai pengarangnya.
  • Leiden, penutup dari Cod. Or. 5834, bandingkan di atas pada no. 3 H. Di tengah-tengah teks terdapat sebuah bagian besar yang telah dihilangkan.

 

 

H. Sebuah uraian tanpa judul mengenai niat sembahyang

Dalam bentuk hikayat tentang dua orang yang bersembahyang menurut cara-cara yang keliru yang dibetulkan oleh pengarangnya. Pada permulaan uraian itu pengarangnya menyebutkan namanya: hamba yang bebal lagi daif daripada segala yang daif yaitu Syaikh Abdurrauf Fansuri al-fani bin Abdullah.

Naskah-naskah:

  • Breda Ethn. Museum 10061, berbahasa Melayu, f.54-69v. Banyak bagian yang hilang dan ada bagian-bagiannya yang tidak dapat dibaca. Di Leiden (Or. A 25e) dan di Jakarta terdapat dalam bentuk mikrofilm.
  • Jakarta KBG 303, berbahasa Melayu, halaman 10-11, pada permulaannya hanya sebagian kecil. Di Leiden terdapat dalam bentuk mikrofilm Or. A 26a.

I. ‘Umdat al-muhtajin ila suluk maslak al-mufridin

(dalam Sair as-salikin, ed. 1316, III, halaman 194 disebut: . . . . .  fi suluk . . . . .). Lihat Rinkes, indeks s.v.

Naskah-naskah:

  • Berlin, Schoemann V, 38 (Cat. Snouck Hurgronje XXXVIII), 101 halaman. Pada kolofonnya disebut Abdurrauf sebaagai pengarangnya.
  • Breda Ethn. Museum 10061 F, f. 94r-101r. Yang ada hanyalah bab kelima saja.
  • 10061 L, memuat dua buah fragmen saja, di antaranya permulaannya.
  • Jakarta KBG 103, berbahasa Melayu, 84 halaman (Cat. van Ronkel DCCV).
  • KBG 107, berbahasa Melayu, halaman 120-227. (Cat. van Ronkel DCCVI).
  • KBG 301, berbahasa Melayu, halaman 1-123 (Cat. van Ronkel DCCVI).
  • KBG 302, Berbahasa Melayu, halaman 1-129 (Cat. van Ronkel DCCVIII).
  • KBG 375, berbahasa Melayu, halaman 20-141 (Cat. van Ronkel DCCIX)
  • Von de Wall 41, 80 halaman (Cat. van Ronkel DCCX). Besar kemungkinan salinan dari naskah yang berikut.
  • Algemene Secretarie 34; diuraikan oleh Van der Tuuk, Cod. Or. 3300, halaman 220 dst.; lebih kurang 60 ff. kl. 40, “tersurat di dalam kantor Secretarie”. Sudah hilang.
  • Leiden Cod. Or. 1930, 158 halaman. (Cat. Juynboll halaman 270). Salinannya diperbuat pada tahun 1845. Dari naskah sebelum ini atau sebaliknya.
  • Or. 5464 (Suppl. Cat. van Ronkel no. 350). Permulaannya tidak ada.
  • Or. 7250, halaman 1-125. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 290). Salinannya diperbuat untuk Snouck Hurgronje kira-kira pada tahun 1899. Diperiksa oleh Teungku Mohammad Noerdin, besar keumngkinan bersama-sama dengan von de Wall 41.
  • Or. 7320, 86 ff. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 291).
  • Or. 7341, f. 26v-121r. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 730).
  • Or. 8154c, halaman 1-4. Memuat sebuah uraian pendek dari bab kedua.
  • Paris, Melayu-Polinesia 104, 138 halaman. (Cat. Cabaton, halaman 241). Kebanyakan salinannya berasal dari Aceh.

 

J. Kifayat al-muhtajin ila masyrab al-muwahhidin alqa’ilin biwahdat al-wujud

Lihat Rinkes pada halaman 39-42.

Naskah-naskah:

  • Amsterdam 674/815, f. 69r-83v.
  • Jakarta KBG 336, berbahasa Melayu, halaman 60-82 (Cat. van Ronkel DCCXXXVI).
  • KBG 349, berbahasa Melayu, 20 halaman (Cat. van Ronkel DCCXXXVII).
  • Algemene Secretarie 13c, diuraikan oleh Van der Tuuk Cod. Or. 3301, halaman 20 dst; telah hilang. Pada naskah ini tertulis judulnya secara lengkap.
  • Or. 7229, halaman 1-27 (Suppl. Cat. van Ronkel no. 329). Salinannya diperbuat oleh Teungku Mohamad Noerdin dari naskah C.
  • Or. 7243, f. 42v-51r. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 327).
  • Or. 7255, f. 1v-12r. (Suppl Cat. van Ronkel no. 328). Bertanggal 1145 H. Di sini dicantumkan judulnya: . . . . . . . ila suluk maslak kamal at-talibin.
  • Or. 7643, halaman 95-123. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 330). Di Jakarta terdapat dalam bentuk mikrofilm. Mengenai naskah ini lihat pada no. 16. Berjudul lengkap.
  • Or. 8214, halaman 1-28, salinan naskah G.

 

 

K. Bayan aghmad almasail wassifat alwajiba lirabbi’l-ard wa as-samawat

Mengenai masalah a’yan sabita. Tentang ini, oleh ar-Raniri pun (dalam Jawahir al-‘ulum, naskah London, halaman 85) disebut aghmad al-masail sebagai suatu masalah yang “intrikal” sekali.

Hal ini terdapat dalam kedua naskah yang telah hilang milik Algemene Secretarie nomor 13 dan 18, yang diuraikan oleh Van der Tuuk Cod. Or. 3301, halaman 14, 19/20. Catatan-catatan pengarangnya sendiri dinyatakan oleh ‘Abdussamad al-Palimbani dalam Sair as-salikin edisi 1316, III, halaman 198: Ta’yid al-bayan hasyiya atas Idah (Cod. Or. 3282: Nafi’at al-bayan fi tahqiq masa’il ala’yan. Naskah ini oleh ‘Abdussamad dianggap sebagai karya yang paling tinggi kedudukannya dalam karya-karya tentang ilmu tasauf.

L. Lubb (?) al-kasyf walbayan lima yarahu’ul-muhtadar bi’l-‘iyan

Yang disebut oleh Rinkes pada halaman 42 dst. Mengenai Sakratulmaut, dikarang oleh Abdurrauf dalam bahasa Arab; terjemahan dalam bahasa Melayu dikerjakan oleh Katib Seri Raja.

Naskah-naskah yang berbahasa Melayu:

  • Breda Ethn. Museum 10061 D, f. 19v-28v.

(b-d) Jakarta, Cat. van Ronkel DCLXVII-IX, menguraikan tentang masalah serupa, tetapi – menurut keterangan Dr. R. Roolvink  - tidak memuat teks ini.

(e) Leiden, Cod. Or. 7255, f. 20r-25v. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 337.) bertanggal 1138 H.

  • Or. 8214, halaman 50-67. Salinan naskah E.

Naskah -naskah yang berbahasa Arab:

  • Leiden, Cod. Or. 5660, f. 1v-5r, pada kolofonnya ditulis: al-musammat Sabab al-Kasyf wa’l-bayan, yang, menurut dugaan saya, seharusnya ditulis, al-musammat bi-Lubb al-kasyf wa’l-bayan.

            Terjemahan Kasyf (dalam naskah A: Kasytal-muntazar lima yarahu’lmuhtadar yang berbahasa Melayu oleh Ibrahim al-Qurani di jumpai dalam naskah-naskah:

  • Leiden, Cod. Or. 7255, f. 27v-35v. Penutupnya tidak ada.
  • Or. 8214, halaman 77-102. Salinan naskah H.
  • London, School of Oriental and African Studies (Kumpulan Marsden) 12151, halaman 1-15. Bertanggal 1199 H. Lengkap; sebagai penterjemahnya disebut Katib Seri Raja bin Hamzah al-Asyi al-Qadiri asy-Syattari.
  • Teks ini terdapat juga dalam naskah 2 pada daftar Cod. Or. 8400 yang tidak ditemukan lagi.

 

Menurut Van Ronkel (Suppl. Cat. Leiden no. 325 pada penutupnya), dalam naskah a.l. Cod. Or. 7243, f. 33v-34r terdapat juga catatan-catatan mengenai tanda-tanda akan meninggalnya Abdurrauf; keterangan ini sangat disangsikan.

 

M. Bayan Tajalli

Lihat di atas, Dalam naskah Den Haag, Mal. CXXXIII (dikatalogkan oleh van Ronkel dalam BKI 103 halaman 575) dikutip sebagian kecil dari risalah Abdurrauf, berjudul Bayan Allah Tajalla. Tidak jelas, apakah naskah itu berkenaan dengan yang ditulis sebelumnya (penjelasan mistik tentang niat sembahyang) ataupun tentang hal yang berikutnya (tanda-tanda akan meninggal seseorang). Naskah itu tampaknya ditulis pada masa kemudian dan kacau sekali keadaannya; judul yang disebut itu besar kemungkinan merupakan suatu kenang-kenangan yang tidak jelas tentang karangan yang diperkatakan itu.

 

N. Daqa’iq al-Huruf

Penjelasan mengenai 2 baris sanjak karangan ibn al-‘Arabi dan lain-lain.

Naskah-naskah:

  • Breda Ethn. Museum 10061 F, f. 76v-84v, hanya memuat bagian terkecil; menurut kolofonnya disadur dari karangan tersebut.
  • Jakarta, Algemene Secretarie no.13, diuraikan oleh Van der Tuuk, Cod. Or. 3301, halaman 19; sudah hilang.
  • Leiden Cod. Or. 7243, f. 51r-68v (Suppl. Cat van Ronkel no. 331). Lengkap, akan tetapi sangat kacau.
  • Or. 7351 (Suppl. Cat van Ronkel no. 749); pada bagian akhirnya, naskah itu memuat 5 halaman permulaan teks tersebut.
  • Or. 7643, halaman 124-161. (Suppl. Cat van Ronkel no. 332). Di Jakarta terdapat dalam bentuk mikrofilm. Bagus sekali, naskah tua (lih. di bawah ini pada no. 16), akan tetapi tidak ada penutupnya.

 

O. Risalat Adab Murid akan Syaikh

Judul ini dibubuhi oleh Teungku Mohamad Noerdin pada bagian pertama Cod. Or. 7643 (halaman 1-48, Suppl. Cat. van Ronkel no. 334. Di Jakarta terdapat dalam bentuk mikrofilm). Karya ini dapat digolongkan dalam naskah-naskah yang berbahasa Arab karena dikarang dalam dua bahasa. Tentang ini Snouck Hurgronje menyebutkan:

“Risalah berbahasa Arab dan Melayu, mengenai kewajiban yang serupa antara syaikh dengan murid; tidak ada permulaannya dan bagian antara halaman 12 dan 13; - dicatat: ...Simt al-majid (halaman 48, besar kemungkinan seluruhnya disadur dari sini). Ditulis pada hari kamis tanggal 29 Sya’ban 1098 oleh ‘Abdurrauf b. ‘Ali”.

Pada kolofonnya tertulis: Tammat ar-risala wa-kana’l-faragh min taswidiha nahar al-khamis at-tasi’ wa’l’isyrina min syahr sya’ban al-mubarak sanat tsamaniya wa-tis’ina ba’da’l-alf min al-hijra an-nabawiya ‘ala sahibihaafdal as-salat wa’t-taslim. Katabaha al-faqir al-fani al-mayyit asy-syaikh ‘Abd ar-Ra’uf ibn ‘Ali latafa’llahu bihi.

Amin.

Tahun yang disebut itu jatuhnya pada tahun 1686 Masehi. Tulisannya menunjukkan tulisan seorang murid daripada seorang ulama dan dalam bab yang berikutnya yang ditulis dengan tangan serupa, terdapat perbaikan-perbaikan yang ditulis dengan tangan lain. Perbaikan-perbaikan itu lebih menunjukkan tulisan Abdurrauf dari pada yang menuliskan teks.

Tanda-tanda air yang tertera pada kertas kebanyakannya bersamaan dengan Heawood 737 dan 745, kedua-duanya dari tahun 1688 M. Karangan berikutnya ditulis oleh tangan serupa (sampai dengan halaman 83; satu halaman kosong antara halaman 48 dan 49 tidak dibubuhi nomornya). Setelah itu tulisannya agak berbeda, akan tetapi penyimpangannya sedikit. Karangan keempat dan kelima (Lih. di atas 11 (H) dan 15 (E) mempunyai halaman judul yang terpisah-pisah (“ini kitab bernama . . . karangan faqir yang hina Syaikh Abdurrauf ghafara’llahu wali-walidaihi) dan menimbulkan kesan seolah-olah ditulis oleh penyalinnya, terutama mengingat pada nama kedua Abdurrauf yang dieja tanpa w dan hamzah. Ini. Adalah kesalahan (ataukah suatu perubahan menulis) yang seringkali terdapat dalam naskah-naskah yang kemudian. Kertasnya serupa seperti kertas karangan yang pertama, akan tetapi tintanya agak berbeda. Karangan kedua dibubuhi baris dan diperiksa oleh tangan lain. Ini mungkin sekali dilakukan oleh pengarangnya sendiri (bandingkan di atas pada no. 3(H).

 

P. Risala mukhtasara fi bayan syurut asy-syaikh wa’l-murid

Seperti halnya dengan karangan terdahulu ditulis dalam dua bahasa, Arab dan Melayu, akan tetapi dengan sebuah faidah yang berbahasa Melayu sebanyak enam halaman.

Naskah: Cod. Or. 7643, halaman 49-83 (Suppl. Cat. van Ronkel no. 335). Di Jakarta terdapat dalam bentuk mikrofilm. Penutupnya tidak ada. Lihat no. 16.

Q. Faidah yang tersebut dalamnya Kaifiyat mengucap zikir la ilaha illallah

Nama pengarangnya tidak disebut, besar kemungkinan Abdurrauf.

Naskah: Cod. Or. 7643 halaman 89-93. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 366). Di Jakarta terdapat dalam bentuk mikrofilm. Lihat no.16. permulaannya tidak ada; baris pertama yang dibubuhi judulnya ditambah kemudian oleh tangan lain.

R. Doa yang dianjurkan oleh Syaikh Abdurrauf Kuala Aceh

Lihat Rinkes halaman 37 catatan 2.

Naskah-naskah:

  • Jakarta KBG 342, berbahasa Melayu, halaman 21 (Cat. van Ronkel DCCXCIV).
  • Leiden Cod. Or. 7230, halaman 11-12. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 324). Salinan naskah A.

 

Karangan serupa didapati dalam naskah KBG 165, berbahasa Arab, f. 119v-120r. (Suppl. Cat. van Ronkel no. 339). Dalam naskah Amsterdam 481/96 terdapat sebuah karangan, berjudul: Dalam fawatih yang dibaca oleh Syaikh ‘Abdurrauf pada permulaan ratib (Cat. van Ronkel dalam Mededeelingen Volkenkunde no.7 halaman 147 keliru menyebutkan “fatwa-fatwa ‘Abdurrauf”). Pada nyawa-nyawa yang dibacakan fatihah itu kita jumpai: Sayyidi asy-Syaikh al-wali al-fani Aminuddin ‘Abdurrauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri.

  1.  Majmu’ al-masa’il

Besar kemungkinan bukan karangan asli Abdurrauf, lihat Rinkes halaman 33.

Naskah-naskah:

  • Dalam bentuk prosa: di Jakarta KBG 336, berbahasa Melayu, halaman 119-131 (Cat. van Ronkel DCCXL).
  • Dalam bentuk sajak: KBG 343, berbahasa Melayu, halaman 1-12. (Cat. van Ronkel DCCXLI).

 

T. ?Syair Ma’rifat

Yang terdapat di Leiden sebagai naskah van Ophuysen 78 (Suppl. Cat. van Ronkel no. 227; lih. penutupnya yang disebut di situ) hampir dapat dipastikan merupakan karangan yang dimasukkan kemudian dalam karangan-karangan Abdurrauf. Teksnya terdiri dari dua bagian: yang pertama (f. 9r-20r) pada pokoknya mengenai dua puluh sifat Tuhan dalam bentuk sajak; yang kedua (f. 20-24v) merupakan tambahan hidup setelah mati. Penutup bagian pertama berbunyi:

“Dengan kehendak Tuhan yang ghani

Tamatlah sudah karangan ini.

Jikalau bersalahan di khabar ini,

Kepada Allah minta ampuni,”

           

Dan setelah itu beralih ke tambahannya dengan sajak:

 

“inilah jumlah rukun yang sebelas,

Kerjakan olehmu janganlah malas,

Serta rajin tulus dan ikhlas,

Supaya di akhirat beroleh balas.”

 

Sajak-sajak yang dinyatakan oleh Van Ronkel sebagai permulaan bagian kedua, kita dapati dalam f. 13r; teksnya (setelah sebuah kalimat dalam bahasa Arab) adalah cocok. Syair ini yang digubah menurut versi Minangkabau itu dianggap sudah agak tua. Letaknya dalam redaksi yang sedikit agak menyimpang tanpa tambahan mengenai hidup setelah mati sebagai karangan pertama dalam naskah KBG 83 yang berbahasa Melayu dan besar kemungkinan berasal dari abad ke 18. Karangan kedua (halaman 38-103) memuat sajak-sajak karangan Hamzah Fansuri, yang ketiga (halaman 103-152) adalah sajak-sajak mistik lain, antara lain serupa dengan yang disebut dalam sastrakanta Van Nieuwenhuijze dengan judul “Samsu’l-din van Pasai”, E.J. Brill, Leiden, 1945, pada halaman 313-316.  Jika saya bandingkan dengan dua redaksi yang sudah saya kenal, maka Syair ma’rifat itu saya anggap sebagai sajak yang tidak berarti; teks-teksnya lebih banyak “curian” dari pada menyebutnya sebagai karya sastra yang bermutu dan asli. Baik dalam naskah-naskah lama maupun dalam keterangan-keterangan ringkas dalam katalog ataupun dalam catatan-catatan sendiri tentang naskah-naskah itu tidak terdapat suatu penjelasan pun yang menyebut Abdurrauf sebagai pengarangnya.

Naskah-naskah:

  • Jakarta KBG 83, berbahasa Melayu, halaman 2-32 (Cat. van Ronkel DXVII), tanpa tambahan. Di Leiden terdapat dalam bentuk mikrofilm (Or. A. 17c).
  • Von de Wall 229, Syair Usul dengan tambahan (Cat. van Ronkel DXIX). Bandingkan juga naskah van Ronkel
  • Leiden Cod. Or. 1956, halaman 243-244 (Juynboll halaman 32), hanya permulaannya saja.
  • Van Ophuysen 78 (Suppl. Cat. van Ronkel no. 227) dengan tambahan.
  • London, Br. Museum Add. 12390 (46 halaman), dengan tambahan, tidak berpenutup.
  • Museum Or. 6899 (28 ff.), dengan tambahan, lengkap.
  • A.S. Maxw. 63 (38 ff.), dengan tambahan, tidak berpenutup.

Dalam karya-karyanya Abdurrauf terdapat sebuah uraian dalam naskah Cod. Or. 8154a, f. 2v-33v yang berasal dari Aceh. Karangan itu adalah petunjuk bersembahyang dengan penjelesan tentang keimanan dalam arti kata tasawuf. Permulaannya berbunyi:

Alhamdu li’llahi’lladzi akrama bani Adama bi-ilbasihim zilla sifatihi, segala puji-pujian bagi Allah Tuhan Yang memuliakan sekalian anak Adam dengan dipakaiankan akan mereka itu bayang-bayang sifat-Nya.”

Penjelasan tentang sifat 20 yang tradisionil itu diikuti dengan ucapan Ahmad al-Qusyasyi yang menyebutkan bahwa orang hanya wajib mengetahui tujuh buah sifat saja (lihat catatan 17 pada teks Bayan Tajalli).

Tentang arti zikir yang sesungguhnya dikatakan:

“yaitu membiasa mengingat kalimah la ilaha illallah dengan hati serta menahan nafas, pada satu nafas dua puluh kali ingat kalimah itu, supaya segera mati nafsu itu. Maka itulah murad dengan sabda nabi “mutu qabla an tamutu”, matikan diri kamu hai ummatku dahulu daripada mati kamu, yakni hendaklah kamu matikan nafsumu dahulu daripada diambilkan nyawamu.

Karangan itu berakhir secara sekonyong-konyong dengan menunjukkan kepada ayat-ayat Quran yang harus dibacakan dalam sembahyang

Daftar Isi & Kandungan

Seri Informasi Aceh ini merupakan penerbitan ulang Seri Informasi Aceh Nomor 1 Tahun 1980 dengan judul yang sama.

Pendahuluan

Traktat atau piagam kecil yang  dalam bahasa Melayu-Arab diberi judul “Laporan Kewahyuan” tergolong dalam karya-karya tulisan seorang ulama Syattariah bernama Abdurrauf bin ‘Ali. Beliau berasal dari Singkel dan setelah sekian lama berdiam di tanah Arab, pada pertengahan abad ke- 17 datang ke Aceh, dan setelah meninggal ia dihormati di Aceh dengan gelar “Teungku di Kuala[Dr. P. Voorhoeve. 2020. ]2



Naskah Sumber

Jawaban Mulla Ibrahim atas pertanyaan Abdurrauf berjudul Kasyi al-Muntazar Lima Yarahulmuhtadar hanya kita kenal melalui terjemahannya dalam bahasa Jawi yang dikerjakan oleh Katib Raja. Karya itu dimulai dengan mengutip beberapa buah riwayat yang dikatakan bersumber dari karangan Jalal ad-Din as-Suyuti berjudul Syarh bi-syarh hal al-mauta walqubur. karangan itu menerangkan tentang mati dan hari akhirat yang juga sangat dikenal di Indonesia. Pengarangnya menyimpulkannya kemudian: sosok tubuh yang berwarna hitam yang dilihat oleh seorang yang sedang sekarat tidak selalu harus dianggap sebagai iblis dan yang putih bukan Muhammad karena ada juga riwayat-riwayat yang menerangkan bahwa seseorang yang sedang sekarat kadangkala melihat malaikat-malaikat yang berwarna putih dan hitam. Bahwa orang yang sedang sekarat dapat melihat Jibrail, itu adalah benar. Pendapat-pendapat yang selalu terdengar bahwa setelah wafat Nabi Muhammad saw., Jibrail tidak turun lagi ke bumi tidak dapat diterima. Begitu juga dengan warna kuning yang disamakan dengan Yahudi dan warna merah dengan Nasrani tidak diketemukan dasarnya dalam riwayat-riwayat. Penerjemah bahkan menambahkan lagi bahwa la ilaha illallah adalah zikir yang sangat afdal pada saat-saat seseorang menghadapi sekarat, walaupun Mulla Ibrahim menganggap tidak perlu menjelaskan lagi.[Dr. P. Voorhoeve. 2020. ]4

 

Teks Bayan Tajalli

Bismillahir-rrahma nirrahim. Al-hamdulillâhi wahdahu was-salâtu was-salâmu ‘alâ man la nabiya ba’dahu. Amma ba’du, adapun kemudian dari itu, maka ketahui olehmu hal talib bahwasanya asal iktikad yang sempurna itu yaitu mengiktikadkan bahwa haq ta’ala laisa kamislihi syaiun, wa-lahu kullu syai’in , artinya: tiada sepertinya suatu dan baginya jua tiap-tiap suatu, yakni tiada sepertinya sesuatu daripada pihak zatnya dan baginya jua tiap-tiap sesuatu daripada pihak asmanya dan tajallinya. Maka dengan kata ini seyogyanyalah kita iktikadkan bahwa Haq taala itu tiada baginya rupa yang tertentu ia dengan dia dan harus baginya tajalli dengan barang rupa yang dikehendakinya, dengan mafhum walahu kullu syai’in yang tersebut itu, seperti sabda Nabi sallallahu alaihi wa salam: raaitu rabbi fi ahsani suratin , artinya: telah kulihat Tuhanku ada sebaik-baik rupa. Tetapi jangan kita iktikadkan akan Haq taala berupa seperti manusia yang baik, karena rupa itu mazhar jua baginya. Maka apabila tajalli ia dengan nur-Nya yang syak syak aini niscaya tiada dapat Ia dipandang dan apabila tajalli Ia dengan nur-Nya yang ghairu syak syak aini niscaya dapat Ia dipandang, tetapi dengan tiada betapa jua. Maka adalah kesempurnaan nikmat dalam surga itu menilik kepada Haq subhanahu wataala dan seyogyanya pula kita ketahui dan kita iktikadkan bagi Haq taala itu tujuh martabat, yakni mempunyai Ia akan tujuh martabat dengan ijmal , pertama martabat ahadiyat namanya, kedua martabat wahdat namanya, ketiga martabat wahidiyat namanya, keempat martabat alam arwah namanya, kelima martabat alam misal namanya, keenam martabat alam ajsam namanya, ketujuh martabat alam insan namanya. Maka tiga yang pertama itu martabat ketuhanan dan empat yang kemudian itu martabat kehambaan lagi mazhar bagi Haq taala. Dan seyogyanya pula kita iktikadkan bagi Haq taala itu tujuh sifat yang dinamai akan dia ibu segala sifat, pertama hayat, kedua ilmu, ketiga qudrah, keempat iradat kelima samak, keenam basar, ketujuh kalam. Maka dengan sifat hayat itulah ia bernama hayy dan dengan ilmu bernama alim dan dengan qudrah bernama qadir dan dengan iradat bernama murid dan dengan samak bernama samik dan dengan basar bernama basir dan dengan kalam bernama mutakallim.[Dr. P. Voorhoeve. 2020. ]5

 

Penutup

Isi ringkas piagam kecil ini adalah sebagai berikut: Tak ada satupun yang serupa dengan Tuhan. Semua yang ada di alam ini adalah milik Tuhan, yaitu Tuhan berada di mana-mana menurut ajaran tujuh martabat keagungan-Nya, Tuhan memiliki tujuh sifat utama; manusia pun memiliki sifat-sifat tersebut sebagai bayangan sifat Tuhan. Sebenarnya sifat-sifat itu, bahkan Ada-Nya itu, hanya dimiliki oleh Tuhan saja. Kesadaran akan kebenaran ini membawa kita kepada ketiadaan. Ini adalah mati sukarela yang membuat kita tidak dapat dimasuki mati terpaksa yang mengerikan itu. Jalan terdekat kepada mati sukarela itu ialah la ilaha illallah (= tidak ada Tuhan selain Allah), yang bagi orang yang mengetahui seluk-beluknya berarti: tidak ada satu pun yang ada selain Allah, karena apa saja yang ada di luar-Nya adalah semata-mata bayang-bayangan-Nya. Jika Anda menghembuskan nafas terakhir dan pada waktu itu Anda didatangi setan maka janganlah Anda melepaskan diri dari la ilaha illallah, seperti sekarang pun kita mematikan diri kita dengan menyebut zikir tersebut, baik dengan lidah maupun dengan nafas. Tanda-tanda kematian itu tidak berlaku secara umum karena mati itu tidak bergantung pada kita..[Dr. P. Voorhoeve. 2020. ]6

 

Berita Terbaru:

Seri Informasi Aceh XXXXlII Nomor 3, 2020 Berdasarkan Staatsblad (Lembaran Negara) Tahun 1881 Nomor 83, semua perkara hukum yang menyangkut agama...
Seri Informasi Aceh XXXXlII Nomor 2, 2020 Tanggal 28 Agustus 1905 dikeluarkanlah Ketetapan Kepala Persenjataan Infanteri tentang penunjukan penulis sebagai Komandan...
JANTHO - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Aceh kubu Tgk H Mohd Faisal Amin resmi memberi dukungan kepada pasangan Ir Mawardi...

Referensi & Catatan

  1. ^ Dr. P. Voorhoeve. 2020. "Bayan Tajalli; Bahan-Bahan untuk Mengadakan Penyelidikan yang Lebih Mendalam tentang Abdurrauf Singkel (Hlm. Kata Pengantar (iii))", Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
  2. ^ Dr. P. Voorhoeve. 2020. "Bayan Tajalli; Bahan-Bahan untuk Mengadakan Penyelidikan yang Lebih Mendalam tentang Abdurrauf Singkel (Hlm. 1)", Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
  3. ^ Dr. P. Voorhoeve. 2020. "Bayan Tajalli; Bahan-Bahan untuk Mengadakan Penyelidikan yang Lebih Mendalam tentang Abdurrauf Singkel (Hlm. 1)", Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
  4. ^ Dr. P. Voorhoeve. 2020. "Bayan Tajalli; Bahan-Bahan untuk Mengadakan Penyelidikan yang Lebih Mendalam tentang Abdurrauf Singkel (Hlm. 20)", Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
  5. ^ Dr. P. Voorhoeve. 2020. "Bayan Tajalli; Bahan-Bahan untuk Mengadakan Penyelidikan yang Lebih Mendalam tentang Abdurrauf Singkel (Hlm. 26)", Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
  6. ^ Dr. P. Voorhoeve. 2020. "Bayan Tajalli; Bahan-Bahan untuk Mengadakan Penyelidikan yang Lebih Mendalam tentang Abdurrauf Singkel (Hlm. 32)", Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh

Laporkan & Beri saran

Anda juga dapat melaporkan atau memberi saran tentang konten ini melalui fitur yang kami sediakan berikut. Masukan atau respon dari anda sangat dibutuhkan guna meningkatkan layanan prima kami. Terima Kasih

Hak dan Undang-undang:

Konten kreatif ini milik Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh dengan judul “Bayan Tajalli”, kecuali sebagian atau seluruh isi yang disebutkan di dalam referensi merupakan milik “Dr. Petrus Voorhoeve” atau pemiliknya yang terhormat. Dilicensekan di bawah Creative Commons CC BY-SA 4.0
Breaking News