• +62 813 6065 3135
  • Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

PDIA Kampanye Literasi Sejarah Aceh di Kota Lhokseumawe

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
Kampanye Literasi Sejarah Aceh Tahun 2019
Temukan teka-teki sejarah Aceh yang hilang
Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) menyelenggarakan Kampanye Literasi Sejarah Aceh Bagi Siswa SMA/SMK Se-Kota Lhokseumawe tahun 2019. Acara kampanye literasi sejarah tersebut berlangsung di aula SMAN 1 Lhokseumawe pada Selasa (26 Maret 2019) bertepatan dengan 146 tahun deklarasi maklumat perang Belanda terhadap Kesultanan Aceh. Tabuh gendrang perang Belanda terhadap Aceh dideklarasikan pada 26 Maret 1873. Dan pada hari Selasa 26 Maret 2019 diperingati sebagai hari maklumat perang Belanda terhadap Kesultanan Aceh.
Acara literasi sejarah tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap pahlawan yang telah berjuang demi mempertahankan bangsa dan negara. Sehingga para generasi muda dapat meneladani semangat juang para pahlawan.

Acara tersebut diikuti oleh ratusan siswa SMA/SMK dan guru sejarah dari berbagai sekolah yang ada di Kota Lhokseumawe.

Aceh merupakan areal yang paling banyak memiliki pahlawan gagah dan pemberani seperti Teuku Umar, Teungku Chik Ditiro, Teungku Chik Ditunong, Teuku Nyak Arif, bahkan Aceh juga memiliki pahlawan perempuan yang anggun seperti Cut Meutia, Cut Nyak Din, dan Laksamana Malahayati. Pahlawan wanita Aceh yang berwajah cantik juga punya semangat membara membela tanah air. Menjadi spirit juang pasukan Aceh dalam bertempur melawan penjajah Belanda.

Dari pihak PDIA tim yang menjadi narasumber adalah Bapak Ikhwan sebagai pemateri memperkenalkan pahlawan Aceh satu persatu.

“Kita jangan pernah menyerah dalam setiap perjuangan dengan meneladi pahlawan,” ungkap Bapak Ikhwan sebagai pemateri memberi semangat kepada peserta.

Dari PDIA sebagai nara sumber juga hadir Bapak Mukhlis A. Hamid pengamat sejarah dalam sastra dan Bapak Mawardi dosen Sejarah, keduanya dosen senior FKIP, Unsyiah.

“PDIA merupakan sumber referensi utama bagi para penulis,” ungkap Mawardi mensosialisasikan agar dokumentasi di PDIA menjadi referensi akurat bagi penulis dan sejarawan.

Acara ditutup dengan audiensi dialog sejarah antara pemateri dan peserta. Bagi peserta yang mampu menjawab pertanyaan seputar sejarah pahlawan Aceh, diberikan hadiah buku sejarah yang diterbitkan oleh PDIA
© 1977 - 2019 Pusat Dokumentasi & Informasi Aceh.