Notice: Undefined variable: preloads in /home/niagapdia/public_html/site/plugins/system/http2push/http2push.php on line 228
Ridwan Azwad - Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh
  • +62 813 6065 3135
  • Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Ridwan Azwad

Seorang yang otodidak di bidang Sejarah

Biografi Ridwan Azwad.

Dalam literatur buku Aceh Bumi Iskandar Muda menyebut bahwa biodata Ridwan Azwad Lahir di Kuta Raja (Banda Aceh) pada tanggal 29 Oktober 1947. Beliau menempuh pendidikan terakhir pada Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala namun tidak dapat menyelesaikannya oleh karena sebab yang tidak diketahui. Ia bekerja sebagai pegawai negeri dengan tugas pertama di Kantor Gubernur di Banda Aceh 1968-1970 dan terakhir sejak 1999 sampai tutup usia (2008) menjabat sebagai sekretaris di Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. 

Beliau adalah cucu dari Muhammad Husein, salah seorang penulis sejarah Aceh dan anak dari Aboe Bakar yang juga merupakan Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh serta juga merekrut anaknya Maysitah Fidelia (yang lebih akrab disapa Iit) ke dalam staf PDIA. Saat itu Bencana Tsunami 14 Desember 2004 telah merenggut banyak hal dari PDIA. Oleh karena itu dengan masuknya staf Iit diharapkan mampu mengganti beberapa staf PDIA yang terkena musibah Tsunami.  Disamping itu pula Iit sangat kompeten karena tumbuh dari lingkungan pemerhati sejarah & dokumen Aceh.

Ridwan Azwad hafal betul beragam fragmentaria sejarah Aceh. Meninggalkan bangku kuliah karena tertarik menjelajah masa lalu melalui berbagai dokumen lama. Berbagai buku sejarah telah disuntingnya.

Iskandar Norman seorang Penulis menjumpai Ridwan Adwaz  di kediamannya, Sabtu (19/7/2008). Beliau mengaku kecewa. Nasionalisme Aceh dinilainya telah retak. “Kita memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dengan mengumandangkan nasionalisme, tapi di sisi lain nasionalisme Aceh retak,” katanya datar.

Nasionalisme yang dimaksudnya retak adalah munculnya gerakan-gerakan pemecahan Aceh, yang beberapa waktu lalu getol berunjuk rasa ke Jakarta. “Mereka sepertinya lupa pada sejarah,” lanjutnya.

Pria berusia 61 tahun ini pun berkisah sambil memperlihatkan sebuah dokumen laporan Belanda, 4 Agustus 1873. Dokumen itu menerangkan tentang keberangkatan 2.000 orang Gayo ke Aceh untuk membantu berperang dengan Belanda. “Ini lihat telegraf pihak Belanda yang menjelaskan 2000 orang gayo itu dipimpin Raja Tatimbang, mungkin yang dimaksud Belanda adalah Raja Patiambang,” ungkapnya.

Ia kemudian memperlihatkan dokumen serupa yang berisi laporan mata-mata Belanda di Singkil, yang disebut sebagai intelijen Melayu. Pada 25 Juli 1873 Sie Angkat dan Bagindo Nau Hitam di Singkil melaporkan keberangkatan ratusan orang Gayo dari Singkil ke Aceh untuk melawan Belanda. “Dulu nasionalisme Aceh begitu besar,” lanjutnya.

Ridwan Azwad memang lelaki yang fasih menghafal setiap babakan sejarah Aceh. Ketertarikannya terhadap sejarah bermula dari diskusi dengan kakeknya Muhammad Husein, salah seorang penulis sejarah Aceh dan Aboe Bakar, bapaknya yang menerjemahkan berbagai buku sejarah Aceh dari bahasa Belanda.

Usia sepuluh tahun ia sudah membaca buku tentang peristiwa kekerasan dalam konflik DI/TII. “Buku itu ditulis oleh A H Glanggang,” kenangnya. Karena itu pula, tamat sekolah menengah atas Ridwan Azwad ingin kuliah di jurusan sejarah, tapi dilarang oleh Muhammad Husein, kakeknya yang juga salah seorang sejarawan. Ia malah dianjurkan untuk kuliah di fakultas hukum.

Masuklah Ridwan Azwad ke Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. “Kakek saya bilang, mempelajari sejarah tanpa memahami hukum akan mudah ditipu orang, maka saya pun nurut,” ungkapnya.

Sambil kuliah, pada awal November 1968, Ridwan Azwad bekerja di kantor Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Setahun kemudian kakeknya meninggal. Setelah itu, Ridwan Azwad meninggalkan bangku kuliah. Apalagi pada September 1970 ia dipindahkan ke Kantor perwakilan Gubernur Daerah Istimewa Aceh di Medan. Ia bertugas di sana sampai Agustus 1970.

Di Medan ia pernah ingin melanjutkan kuliahnya di fakultas hukum. Namun sebuah kenangan yang tidak mengenakkan tentang proses hukum yang dinilainya cacat, membuyarkan keinginannya itu.

Agustus 1974 sampai awal Janurai ia bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah istimewa Aceh. Selanjutnya pindah ke Dinas Pendapatan Nanggroe Aceh Darussalam, dari Januari 1976 sampai akhir Oktober 2003.

Lepas dari kedinasan, membuat Ridwan Azwad punya waktu yang lebih untuk menelusuri naskah sejarah. Apa yang didapatnya itu kemudian ditulis dan dikirim ke media. Seperti pada tahun 1996 lalu, ia berhasil menguak sejarah selembar surat Sultan Prancis, Louis Philippe (1830-1848) untuk Raja Aceh, Sultan Ibrahim Mansur Syah (1836-1870).

Surat itu ditemukan oleh tentara Belanda ketika merebut Dalam (istana) Sultan Aceh. Surat itu kemudian didapati oleh petugas Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) berada di Koninkklijk Institut voor Taal, Land en Volkenkunde di Leiden. Surat diplomatik itu bertulis tangan yang amat indah, pada selembar kertas besar yang pada pinggirnya berwarna biru berhias air emas.

Karena pengetahuannya tentang sejarah, Ridwan Azwad sejak tahun 1999 diminta untuk bertugas di PDIA, Banda Aceh. Di sana ia menjabat sebagai Sekretaris sampai sekarang.

Di sela-sela kesibukannya, ia menjadi editor dan penyunting berbagai buku sejarah, diantaranya: Anggota Tim Editor The Engglish-Acehnese Dictionary karangan A.B.Lilawangsa (1995-1996), Tim penyunting buku A.J. Peikaar, Aceh dan Peperangan dengan Jepang, terjemahan.Aboe Bakar, Cetakan kedua 1998.

Ridwan Azwad juga salah seorang penyusun dan penyuntin Kamuih-Indonesia-Inggreh & Engglish-Indonesian-Acehnese Dictiionary (1999-2000). Anggota tim penyunting buku K.F.H. van Langen, Susunan Pemerintah Aceh Semasa Kesultanan, terjemahan. Aboe Bakar cetakan keempat (2002).

Ia juga menjadi tim penyunting buku Rusdi Sufi, Hukum Adat Pertanahan : Pola Penguasaan Pemilikan dan Pengguanaan Tanah Secara Adat Aceh Tempo Doeloe dan Masa Kini, Cet. Kedua (revisi) 2002. serta penyunting buku Lembaga-lembaga Tradisional di Aceh dan buku Mereka yang Meninggalkan Pihak Aceh. Tahun 2007 lalu ia juga salah seorang penulis buku Ensiklopedi Aceh, terbit Maret 2008.

Sejarah bagi Rizwan Azwad punya dua sisi yakni peristiwa dan kisah. Menurutnya, satu hal yang sulit bagi sejarawan Aceh menyusun kembali sejarah adalah, dokumen-dokumen sejarah Aceh berada di luar negeri. “Banyak laporan ditulis oleh Belanda, sayangnya generasi Aceh sekarang yang menguasai bahasa Belanda sangat kurang, sehingga kesannya sejarah Aceh itu seperti ada tapi tiada,” katanya berfilsafat. 

Karier Ridwan Azwad

  • 1968-1970 bertugas di kantor Gubernur di Banda Aceh
  • 1970-1974 bertugas di kantor Perwakilan Gubernur Aceh di Medan
  • 1974-1976 bertugas di kantor Bappeda Provinsi Daerah Istimewa Aceh
  • 1977-1999 bertugas di Dinas Pendapatan Daerah
  • 1999-2008 bertugas di Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh

 

 

Publikasi Ridwan Azwad
  • Editor "The English-Acehnese Dictionary" karangan AB Lilawangsa, diterbitkan Oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Aceh Tahun 1996
  • Editor "Kamuih Indonesia Inggreh" tahun 2000
  • Editor "Hukum Adat Pertanahan : Pola Penguasaan Pemilikan dan Pengguanaan Tanah Secara Adat Aceh Tempo Doeloe dan Masa Kini" terbitan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh tahun 2002
  • Editor "Lembaga-lembaga Tradisional di Aceh" terbitan Pusat Dokumentasi dan informasi Aceh tahun 2003
  • Editor "Mereka yang meninggalkan pihak Aceh" terbitan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh tahun 2003
  • Penulis "Aceh Bumi Iskandar Muda" diterbitkan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2008
  • "Kesultanan Aceh dan MR. L.W.C Van Den Berg-nya 'Masa Depan Aceh'", Seri Informasi Aceh Tahun XXXII No.1, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh2009
  • Editor "Susunan Pemerintahan Aceh Semasa Kesultanan" karangan KFH van Langen, diterbitkan PDIA tahun 2012

Penghargaan dan Rujukan

Ridwan Azwad merupakan narasumber penting di bidang sejarah, ia mendengar cerita lisan dari ayahnya Aboe Bakar dan Kakeknya Muhamad Husen yang juga penulis sejarah Aceh

Tim Redaksi

Hak & Undang-undang

Konten ini milik Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh dengan judul Biografi Ridwan Azwad. Dilicensekan di bawah CC BY-SA 4.0

Versi

Konten ini juga tersedia versi inggris Biography Ridwan Azwad
Ridwan Azwad Born in Kuta Raja (Banda Aceh) on October 29, 1947. He took his last education at the Faculty of Law, Syiah Kuala University but was unable to complete it due to unknown reasons. He worked as a civil servant with the first assignment at the Governor's Office in Banda Aceh 1968-1970 and most recently from 1999 until closing age (2008) at the Aceh Documentation and Information Center.

Kredit

Indonesia OneSearch 1 - 77 untuk pencarian: 'Ridwan Azwad' https://onesearch.id/ diakses 10 Januari 2019
Iskandar Norman "Lelaki di Puing Sejarah"Blog Iskandar Norman diakses 10 Januari 2019

Laporkan & Beri saran

Anda juga dapat melaporkan atau memberi saran tentang konten ini melalui fitur yang kami sediakan berikut. Masukan atau respon dari anda sangat dibutuhkan guna meningkatkan layanan prima kami. Terima Kasih

Hak dan Undang-undang:

Konten kreatif ini milik Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh dengan judul “Ridwan Azwad”, kecuali sebagian atau seluruh isi yang disebutkan di dalam referensi merupakan milik “ ” atau pemiliknya yang terhormat. Dilicensekan di bawah Creative Commons CC BY-SA 4.0
Breaking News